KANALBERITA.COM – Kelompok pertama warga Palestina yang kembali ke Gaza setelah menjalani perawatan medis di Mesir dilaporkan mengalami interogasi, perlakuan kasar, dan ancaman penahanan dari pihak Israel saat melewati penyeberangan Rafah yang baru dibuka kembali.
Hal ini diungkapkan oleh pejabat kesehatan Gaza yang menyatakan bahwa hanya sejumlah kecil pasien yang diizinkan berangkat untuk berobat, sementara warga lainnya yang kembali dari Mesir menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Kepala Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, menyampaikan kepada RIA Novosti bahwa total 12 warga yang kembali dari Mesir mengalami perlakuan buruk. “Mereka melaporkan diinterogasi, diperlakukan dengan kasar, diancam akan ditahan atau dikirim kembali ke Mesir, termasuk perempuan,” ujar al-Wahidi, seraya menekankan bahwa hari pertama operasional penyeberangan berlangsung sangat buruk.
Penyeberangan Rafah, yang terletak di perbatasan antara Mesir dan Gaza, kembali beroperasi pada hari Senin setelah ditutup selama berbulan-bulan akibat pengambilalihan wilayah tersebut oleh pasukan Israel pada Mei 2024. Berdasarkan kesepakatan yang berlaku, sebanyak 150 warga Gaza diizinkan meninggalkan wilayah tersebut setiap harinya, sementara 50 warga diperbolehkan masuk dari Mesir setelah melalui prosedur keamanan yang telah ditetapkan.
Pengelolaan penyeberangan ini dilakukan oleh Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM) bekerja sama dengan otoritas Mesir, serta melalui koordinasi keamanan dengan Israel. Setiap hari, Mesir menyerahkan daftar 50 warga Gaza yang berencana masuk ke wilayah tersebut untuk mendapatkan persetujuan keamanan dari Israel. Sementara itu, EUBAM bertanggung jawab menyampaikan daftar 150 warga yang akan keluar beserta tujuan akhir mereka.
Sebelum konflik di Gaza meningkat, Rafah merupakan satu-satunya penyeberangan di wilayah Palestina yang tidak berada di bawah kendali langsung Israel. Pintu perbatasan ini memegang peranan krusial dalam penyaluran bantuan kemanusiaan, proses evakuasi korban luka, serta masuknya pasokan vital dari komunitas internasional.














