KANALBERITA.COM – Indonesia kini tengah berada pada fase aging population dengan proporsi penduduk lanjut usia yang tercatat mencapai 11,97 persen berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik. Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) berupaya merancang program untuk menjaga kualitas hidup lansia agar tetap sehat dan aktif guna mengatasi persoalan kesepian serta depresi.
Fenomena kesepian pada lansia menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan risiko depresi. Data dalam policy brief Kemendukbangga/BKKBN bersama UNFPA tahun 2024 menunjukkan prevalensi kesepian pada lansia mencapai 10,3 persen, sementara hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kemenkes 2024 mencatat angka depresi menyentuh 64,4 persen.
Psikolog Arnold Lukito menjelaskan bahwa kesepian dan depresi pada lansia sering membentuk pola lingkaran setan yang saling memperburuk kondisi kesehatan. Menurut Arnold, perasaan kesepian merupakan alarm biologis yang muncul saat seseorang membutuhkan koneksi sosial, namun jika tidak terpenuhi, otak akan merespons lingkungan sebagai ancaman yang berujung pada isolasi diri.
“Akibatnya, lansia makin menarik diri, makin terisolasi, dan depresinya makin berat. Jadi, rasa kesepian sebetulnya tanda psikologis yang wajar, bukan kelemahan atau kekurangan,” jelas Arnold saat diwawancarai pada Rabu (24/6).
Pentingnya Memberikan Tujuan Hidup
Kondisi ini sering kali diperparah oleh miskonsepsi bahwa kesepian sama dengan sendirian, padahal rasa sepi bersifat subjektif. Meskipun tinggal bersama keluarga, seorang lansia tetap berisiko merasa kesepian jika interaksi yang terbangun terasa dangkal atau mereka merasa tidak memiliki peran lagi di rumah.
Arnold menekankan bahwa memberikan rasa berdaya atau sense of purpose sangat krusial agar semangat hidup lansia tetap terjaga. Keluarga sebaiknya menghindari sikap terlalu membatasi ruang gerak lansia dengan alasan ingin membantu, karena hal tersebut dapat memicu ketidakberdayaan yang dipelajari. Alih-alih hanya menjadi objek perawatan, lansia disarankan untuk dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka untuk terus berkontribusi dan mengambil keputusan bagi diri mereka sendiri.








