HeadlineKolom

Reels: Inovasi Digital atau Ancaman bagi Proses Belajar?

×

Reels: Inovasi Digital atau Ancaman bagi Proses Belajar?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Reels Instagram

Oleh :
Nabila Aurelia Putri Hermawanto*

Konsumsi video pendek seperti reels, shorts, dan tiktok sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kita, terlebih generasi muda yang banyak menghabiskan waktunya di dunia digital. Di sela-sela waktu istirahat menunggu kelas, sebelum tidur, hingga ketika menunggu datangnya transportasi umum dilakukan dengan melihat reels yang awalnya diniatkan ‘hanya sebentar saja’ tapi bisa berlanjut hingga beberapa jam berikutnya. Tanpa sadar, puluhan hingga ratusan video dengan informasi yang beragam itu sudah dikonsumsi oleh otak. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan sehari dua hari saja tapi berkali-kali sehingga otak menjadi terbiasa dengan konsumsi video pendek dengan pergantian informasi, visual, dan suara yang cepat.

Meskipun reels memiliki kelebihan seperti memberi kemudahan dalam mengakses dan memperoleh informasi serta mencari hiburan, muncul pertanyaan apakah ada dampak dari konsumsi reels yang berlebihan pada cara kerja otak. Adanya keluhan mengenai kesulitan mempertahankan atensi ketika mengerjakan sesuatu yang membutuhkan fokus lama atau kesulitan dalam mengingat informasi baru menjadi alasan banyaknya penelitian yang dilakukan terkait hubungan antara reels dengan atensi dan memori.

Dari perspektif kognitif, otak akan memproses informasi yang didapat dari panca indera dan kemudian difilter oleh atensi untuk memilih informasi mana yang akan diteruskan dan diproses secara mendalam. Sehingga, ketika kita tidak benar-benar memperhatikan informasi yang ada, kita tidak bisa mengingat informasi tersebut. Reels menyajikan pergantian gambar, suara, teks, dan topik yang sangat cepat sehingga otak terus melakukan perpindahan fokus. Dalam jangka panjang, otak menjadi terbiasa menerima rangsangan yang serba cepat sehingga aktivitas yang membutuhkan fokus dan perhatian lama seperti mendengarkan seminar, membaca buku, atau mengerjakan tugas menjadi membosankan.

Fenomena ini berkaitan dengan menurunnya kemampuan sustained attention yaitu mempertahankan fokus jangka panjang pada satu tugas. Hal ini yang membuat aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan mempertahankan konsentrasi sulit untuk dilakukan karena individu menjadi lebih mudah terdistraksi, sering berpindah tugas, bahkan sering memeriksa ponsel ketika belajar.

Selain atensi, peran memori dalam proses kognitif juga ikut terdampak. Pada konteks psikologi kognitif, ada tiga tahapan dalam pembentukan memori yaitu encoding (menginput informasi dari memori sensorik), storage (menyimpan informasi), dan retrieval (memanggil kembali informasi). Informasi yang masuk dan telah diseleksi oleh atensi akan masuk ke short term memory (STM) atau memori jangka pendek dan apabila tidak ada pengulangan informasi ini akan terlupakan. Sehingga, ketika individu akan memanggil kembali informasi ini akan kesulitan karena sudah hilang akibat pergeseran atau peluruhan.

Namun, dalam mengonsumsi reels, otak tidak diberi kesempatan untuk mengulang dan mengolah informasi secara mendalam. Informasi yang diperoleh hanya berupa potongan-potongan sebelum beralih ke informasi selanjutnya sehingga tidak ada pengulangan informasi. Akibatnya, informasi hanya bertahan di memori jangka pendek dan menjadi terlupakan. Kondisi ini juga diperkuat dengan adanya reward system di otak yang membuat individu merasa sensasi yang menyenangkan setiap menemukan konten yang menarik sehingga scrolling terus berlanjut. Dalam jangka panjang, otak akan terbiasa dengan kepuasan instan sehingga ketika melakukan aktivitas berpikir secara mendalam individu akan mudah merasa bosan.

Pada bidang pendidikan, perubahan ini muncul dan terlihat dari perilaku siswa. Siswa menjadi sulit berkonsentrasi selama pembelajaran. Akibatnya, siswa hanya membaca sekilas materi yang diberikan dan tidak memahami materi secara mendalam. Selain itu, kebiasaan melihat reels yang berisi informasi singkat dapat membuat siswa merasa sudah memahami informasi yang ada tanpa melakukan penelusuran lebih dalam mengenai kebenaran informasi tersebut.

Namun, tidak selamanya reels memberikan dampak negatif bagi siswa. Adanya visual yang menarik ditambah dengan musik dan teks yang sesuai membuat minat menonton siswa terhadap video tersebut meningkat sehingga beberapa content creator memanfaatkannya sebagai media edukasi yang efektif. Banyak pembelajaran yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa karena adanya animasi ataupun ilustrasi sesuai materi. Namun, perlu diingat bahwa reels bukan menjadi satu-satunya sumber belajar tapi perlu adanya pemahaman juga pemeriksaan ulang mengenai kebenaran informasi yang disampaikan.

Tantangan utama dari digitalisasi adalah bagaimana individu dapat memanfaatkannya secara bijak. Perlu adanya langkah preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan reels yang berlebihan, salah satunya dengan membangun kebiasaan digital yang sehat. Siswa dapat menetapkan batasan waktu dalam penggunaan media sosial atau handphone sehingga menghindari membuka reels ketika belajar atau mengerjakan tugas. Melakukan kebiasaan yang membutuhkan fokus panjang seperti membaca buku selama 25-30 menit tanpa distraksi juga dapat membantu meningkatkan attention span individu yang mulai menurun.

Lembaga pendidikan juga dapat dilibatkan dalam mengembangkan dan mengajarkan literasi digital kepada siswa. Siswa dapat diajarkan mengenai dampak dari penggunaan media sosial yang tidak bijak terutama pada fungsi kognitif sehingga paham bagaimana cara mengelolanya dengan baik. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan siswa dapat menyadari bahwa kualitas belajar tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu belajar tapi juga pada kemampuan mempertahankan fokus.

Terakhir, guru atau dosen dapat memberlakukan pembelajaran yang kreatif dan interaktif untuk menarik minat dan perhatian siswa. Pembelajaran seperti diskusi, simulasi, atau praktik dapat dilakukan dengan harapan dapat membantu siswa dalam menganalisis, berpikir kritis, dan merefleksikan informasi yang telah diberikan secara mendalam sehingga proses kognitif tetap berjalan.

Sejatinya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik untuk diri individu. Reels menawarkan hiburan, informasi, dan edukasi yang mudah diakses dengan visual yang menarik dan dapat menarik perhatian dengan mudah. Namun, paparan stimulasi dari visual, musik, dan teks yang berlebihan dan silih berganti akan mempersulit kinerja otak. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk menyadari bahwa kemampuan dalam mempertahankan fokus dan membangun memori bukan hanya penting dalam dunia pendidikan, tetapi juga menjalankan hidup ke depannya. Dengan memberi otak waktu untuk beristirahat, kita dapat menjaga kemampuan atensi dan memori di tengah derasnya arus informasi digital.

* Penulis adalah Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

 

Example 300x600
Headline

KANALBERITA.COM – Toyota Motor Corp melaporkan bahwa total penjualan kendaraan global mereka pada bulan Mei menyusut sebesar 7,2 persen menjadi 834.279 unit dibandingkan periode yang…