BisnisHeadlineInternasional

Konflik Global dan Iklim Picu Kenaikan Harga Pangan Hingga 50 Persen

×

Konflik Global dan Iklim Picu Kenaikan Harga Pangan Hingga 50 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi harga pangan
Ilustrasi harga pangan

KANALBERITA.COM-  Harga kebutuhan pokok di seluruh dunia terus meroket, memperburuk krisis biaya hidup yang tengah melanda. Kenaikan harga pangan ini tidak hanya membebani negara berkembang, tetapi juga negara maju seperti Inggris. Situasi ini menunjukkan sistem pangan global tengah menghadapi tekanan luar biasa dari berbagai faktor.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat di berbagai negara terpaksa menyesuaikan diri dengan lonjakan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut, bahkan diperkirakan akan semakin parah, menambah beban rumah tangga dan meningkatkan risiko krisis ekonomi yang lebih luas.

Sebuah analisis dari lembaga think tank Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) memproyeksikan harga pangan di Inggris akan melonjak hingga 50 persen pada November 2026. Kenaikan drastis ini, yang biasanya memakan waktu hampir dua dekade, kini diperkirakan terjadi hanya dalam rentang waktu sekitar lima tahun.

Kondisi ini merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan yang saling terkait. Mulai dari dampak perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, terganggunya jalur pasok global, hingga ketergantungan pada fluktuasi harga minyak dan gas.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga Pangan

Beberapa komoditas pangan pokok mengalami kenaikan harga yang signifikan. Misalnya, pasta, sayuran beku, cokelat, telur, dan daging sapi harganya melonjak antara 50 persen hingga 64 persen. Minyak zaitun bahkan mencatat kenaikan tertinggi hingga 113 persen. Kenaikan ini mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap biaya energi, pupuk sintetis, serta dampak iklim seperti kekeringan dan gelombang panas.

Dampak kenaikan harga ini secara langsung membebani anggaran rumah tangga. Antara tahun 2022 hingga 2023, rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk belanja makanan meningkat sekitar £605 atau setara Rp13,9 juta (dengan asumsi kurs Rp23.000 per pound). Dari jumlah tersebut, sekitar £244 atau Rp5,6 juta disebabkan oleh lonjakan biaya energi.

Inflasi pangan semakin diperparah oleh komoditas yang rentan terhadap perubahan iklim, seperti mentega, susu, daging sapi, cokelat, dan kopi. Harga komoditas-komoditas ini meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan produk makanan lainnya, menjadikannya pendorong utama inflasi pangan.

Analis pangan ECIU, Chris Jaccarini, menyatakan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk keadaan. “Perang Trump di Timur Tengah diperkirakan akan mendorong tagihan belanja semakin tinggi seiring lonjakan harga minyak dan gas,” ujarnya, mengutip ITV, Senin (4/5/2026).

Example 300x600
Bisnis

KANALBERITA.COM–  Pada tahun 2026, Amerika Serikat kembali mengukuhkan posisinya sebagai negara dengan jumlah individu berpenghasilan tinggi terbanyak di dunia. Peringkat ini menunjukkan konsistensi dominasi negara-negara…