KANALBERITA.COM — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian. Di tengah tekanan mata uang global, Bank Indonesia (BI) menghadapi pilihan sulit untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan likuiditas perbankan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi Profesor Ferry Latuhihin menilai persoalan yang dihadapi BI bukan sekadar bagaimana mempertahankan nilai tukar rupiah, tetapi bagaimana memilih instrumen kebijakan yang konsekuensinya paling dapat dikelola.
Menurut Ferry, terdapat dua pilihan utama yang dapat ditempuh BI, yakni memperkuat intervensi di pasar valuta asing atau menaikkan suku bunga. Namun, masing-masing memiliki risiko terhadap perekonomian.
“BI dihadapkan oleh satu dilema, antara menaikkan suku bunga karena di dunia ini suku bunga sudah naik untuk menjaga stabilitas rupiah atau tetap melakukan intervensi,” kata Ferry dalam sebuah acara podcast yang disiarkan Selasa (22/9/2026).
Mengapa Rupiah Kembali Tertekan?
Ferry menjelaskan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, tingginya suku bunga Amerika Serikat membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik bagi investor.
Kondisi tersebut dapat mendorong perpindahan dana menuju aset berbasis dolar sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kalau dari luar jelas bahwa The Fed telah menaikkan suku bunganya, sehingga mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah Amerika yang 10 tahun itu ke atas 5%. Dan ini tentu membuat tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.
Selain kebijakan suku bunga global, kenaikan harga minyak juga menjadi persoalan bagi Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.
Indonesia masih membutuhkan impor minyak dalam jumlah besar. Karena transaksi impor tersebut membutuhkan dolar AS, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Kenaikan Suku Bunga Bisa Menekan Ekonomi
Salah satu opsi untuk meredam pelemahan rupiah adalah menaikkan suku bunga domestik. Namun, Ferry mengingatkan kebijakan tersebut memiliki konsekuensi terhadap sektor keuangan dan dunia usaha.
Menurut dia, kenaikan suku bunga dapat mendorong peningkatan yield Surat Berharga Negara (SBN). Ketika yield meningkat, harga SBN berpotensi turun. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi nilai aset yang dimiliki sektor perbankan.
“Kalau BI menaikkan BI rate dan SBN naik sampai 8%, nilai SBN-nya, harga SBN-nya pasti jatuh karena hubungan yang terbalik antara yield dan harga,” kata Ferry.
Dampak berikutnya adalah potensi mengetatnya likuiditas. Jika ruang perbankan untuk menyalurkan kredit semakin terbatas, dunia usaha dapat menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi.
“Kalau likuiditas semakin kering, perbankan tidak bisa mengucurkan kredit kepada dunia usaha. Ujung-ujungnya ekonomi kita yang akan menjadi korban,” ujarnya.
Dengan demikian, keputusan menaikkan suku bunga untuk mempertahankan stabilitas rupiah tidak hanya menyangkut nilai tukar, tetapi juga berhubungan langsung dengan aktivitas ekonomi domestik.
Intervensi Rupiah Juga Memiliki Risiko
Pilihan lainnya adalah mempertahankan stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing. BI dapat menjual dolar ketika tekanan terhadap rupiah meningkat.
Namun, menurut Ferry, strategi tersebut tidak dapat dilakukan tanpa batas. Intervensi yang terlalu lama dapat mengurangi cadangan devisa apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
“Kalau BI terus-terusan melakukan intervensi lewat pasar valas lama-lama cadangan devisa kita habis,” ujarnya.
Persoalan inilah yang kemudian membuat kebijakan nilai tukar menjadi semakin kompleks. BI harus mempertimbangkan stabilitas rupiah sekaligus menjaga agar cadangan devisa dan kondisi sektor keuangan tetap memadai.
Rupiah dan Tantangan Arus Modal Asing
Ferry juga menyoroti pengaruh arus modal asing terhadap nilai tukar rupiah. Dalam sistem dengan arus modal yang relatif bebas, perpindahan dana asing dapat memberikan dampak terhadap nilai mata uang.
Ia menjelaskan kondisi tersebut melalui konsep impossible trinity atau trilema kebijakan ekonomi. Menurut Ferry, suatu negara tidak dapat secara bersamaan mempertahankan arus modal bebas, nilai tukar yang sepenuhnya stabil, dan kebijakan moneter yang sepenuhnya independen.
“Dari tiga ini, free flow of capital, stable exchange rate atau fixed exchange rate dan sovereign monetary policy, hanya dua yang bisa kita pilih, tidak bisa tiga-tiganya,” katanya.
Dalam konteks Indonesia, tekanan terhadap rupiah karena arus modal menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan kebijakan moneter.
Harga Minyak Jadi Risiko Tambahan bagi Rupiah
Selain berdampak terhadap kebutuhan dolar, kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal pemerintah.
Ferry memperkirakan tingginya harga minyak dapat meningkatkan beban APBN karena asumsi harga minyak dalam anggaran dapat tertinggal dari perkembangan harga pasar.
“Setiap 1 dolar kenaikan harga minyak itu bisa membuat defisit APBN kita bertambah 6,7 triliun,” ujar Ferry.
Karena itu, tekanan terhadap rupiah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi global, harga energi, arus modal dan kondisi fiskal dalam negeri.
Pada akhirnya, tantangan terbesar BI adalah menemukan keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kebutuhan menjaga momentum ekonomi. Pelemahan rupiah menjadi persoalan yang tidak berdiri sendiri karena setiap kebijakan untuk meresponsnya membawa konsekuensi terhadap sektor keuangan dan perekonomian secara lebih luas.
Wartawan Senior yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Percikan Iman, Media Official Persib.













