KANALBERITA.COM – Para peneliti dari Wroclaw Medical University menemukan bahwa kafein dapat menurunkan kualitas istirahat malam seseorang meskipun individu tersebut tetap bisa tidur selama delapan jam secara normal. Temuan ini didasarkan pada analisis elektrokonsentefalografi (EEG) yang menunjukkan adanya pengurangan gelombang otak lambat yang krusial untuk pemulihan fisik dan fungsi saraf pada 22 September 2026.
Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa selama mereka mampu terlelap setelah minum kopi, maka asupan tersebut tidak memengaruhi kualitas istirahat mereka. Namun, pengukuran EEG memberikan gambaran lebih dalam tentang apa yang terjadi pada otak selama proses tidur, melampaui sekadar durasi atau frekuensi terbangun.
Prof. Donata Kurpas dari Departemen Keperawatan, Wroclaw Medical University, menjelaskan bahwa penilaian tidur klasik sering kali hanya memantau durasi. Sementara itu, analisis EEG kuantitatif mampu mendeteksi perubahan halus seperti berkurangnya aktivitas gelombang lambat yang menjadi indikator penting kedalaman tidur serta sifat restoratifnya, ujar Prof. Kurpas .
Kurangnya gelombang lambat ini berarti bahwa seseorang mungkin menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur, tetapi tidak mendapatkan tingkat pemulihan neurologis yang optimal. Hal ini sering kali tidak disadari karena individu tersebut tetap merasa telah tidur dengan baik secara subjektif meski otaknya menunjukkan pola yang lebih terjaga.
Faktor pemicu gangguan tidur
Respons tubuh terhadap kafein sangat bervariasi, dipengaruhi oleh faktor genetika, metabolisme, usia, tingkat stres, serta kelelahan kronis. Oleh karena itu, kafein yang dikonsumsi jauh sebelum waktu tidur tetap berpotensi memberikan dampak negatif bagi sebagian orang jika metabolisme tubuh belum sepenuhnya memproses zat tersebut.
Prof. Kurpas menambahkan bahwa konsumsi kafein yang berkelanjutan guna menutupi rasa lelah justru bisa memicu siklus buruk bagi kesehatan. Jika kafein membantu seseorang tetap aktif di siang hari namun memperburuk kualitas pemulihan di malam hari, maka akan timbul lingkaran setan berupa kelelahan yang lebih besar dan kebutuhan stimulasi yang semakin meningkat, ungkap Prof. Kurpas pada 22 September 2026.
Penelitian ini menegaskan bahwa kafein bukan sekadar zat yang bisa dikategorikan baik atau buruk secara mutlak. Efeknya sangat bergantung pada dosis, waktu konsumsi, gaya hidup, serta sensitivitas biologis masing-masing individu terhadap zat tersebut.
Wartawan senior yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di media nasional KOMPAS.COM










