HeadlineKolom

Bahagia tak Harus Menunggu Segalanya Sempurna

×

Bahagia tak Harus Menunggu Segalanya Sempurna

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi

Oleh :  Miranti Aprida, S.TP., S.Psi

Mahasiswa Program Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University. 

 

“Nanti kalau sudah menikah, pasti bahagia.” “Kalau sudah punya anak, hidup akan lebih lengkap.” “Kalau sudah memiliki mobil, barulah hidup terasa nyaman.”

Kalimat seperti itu mungkin tidak asing bagi kita. Tanpa disadari, kebahagiaan sering ditempatkan sebagai sesuatu yang baru dapat dirasakan setelah tujuan tertentu tercapai. Kita membayangkan hidup akan terasa lebih menyenangkan ketika seluruh keinginan terpenuhi.

Kenyataannya, setelah satu tujuan tercapai, sering muncul keinginan berikutnya. Ketika sudah bekerja, kita mengharapkan penghasilan lebih besar. Setelah penghasilan meningkat, muncul keinginan memiliki rumah, kendaraan, atau kehidupan seperti orang lain. Kebahagiaan pun seolah menjadi tujuan yang terus bergerak menjauh.

Memiliki cita-cita tentu bukan persoalan. Masalah muncul ketika perhatian kita terlalu terpusat pada sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa menghargai apa yang sudah ada. Jika kebahagiaan harus menunggu semuanya sempurna, kapan kita benar-benar dapat menikmatinya?

Mengapa Kita Sulit Merasa Cukup?

Salah satu penyebab rasa tidak puas adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memudahkan kita menyaksikan pencapaian orang lain hampir setiap hari: pekerjaan impian, pernikahan, rumah baru, atau perjalanan ke luar negeri. Sementara itu, kita mungkin masih berjuang menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, atau menghadapi persoalan keluarga.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori perbandingan sosial (social comparison theory) dari Festinger (1954). Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri dengan orang lain.

Perbandingan tidak selalu buruk. Keberhasilan seseorang dapat menginspirasi kita untuk belajar dan berkembang. Akan tetapi, ketika yang diperhatikan hanya kelebihan orang lain, perbandingan dapat memunculkan perasaan tertinggal. Kita membandingkan keseharian yang penuh tantangan dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain, padahal apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan.

BACA JUGA  Luka Tak Terlihat: Mengenali dan Mencegah Kekerasan dalam Pacaran

Akibatnya, pencapaian sendiri yang semula membanggakan menjadi terasa biasa. Jika dibiarkan, standar kebahagiaan perlahan bergeser dari kebutuhan pribadi menuju ukuran yang ditentukan oleh kehidupan orang lain. Di sinilah pentingnya belajar melihat pengalaman diri secara lebih seimbang.

Belajar Menghargai Hal-Hal Sederhana

Salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah bersyukur. Dalam psikologi, rasa syukur (gratitude) berkaitan dengan kemampuan mengenali dan menghargai kebaikan yang diterima atau dialami. Maknanya tidak berhenti pada ucapan terima kasih, tetapi juga pada kesadaran bahwa pengalaman sederhana dapat bernilai bagi kehidupan kita.

Emmons dan McCullough (2003) meneliti kebiasaan mencatat hal-hal yang disyukuri. Dalam sejumlah pengukuran, peserta yang diminta memperhatikan pengalaman yang mereka syukuri menunjukkan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan kelompok pembanding. Temuan yang paling konsisten berkaitan dengan emosi positif.

Bayangkan seseorang pulang setelah menghadapi pekerjaan yang menumpuk. Ia mungkin menganggap harinya buruk karena hanya mengingat hal yang belum selesai. Padahal, pada hari yang sama, ada rekan yang membantu, teman yang menanyakan kabar, atau waktu singkat untuk beristirahat. Mengingat pengalaman itu tidak membuat beban pekerjaan hilang. Namun, ia dapat melihat bahwa hari yang berat tidak sepenuhnya berisi pengalaman buruk.

Bersyukur berarti memberi ruang bagi hal-hal baik yang sering luput dari perhatian, bukan berpura-pura bahwa semua keadaan berjalan menyenangkan.

Bersyukur Bukan Jaminan Selalu Bahagia

Diniz et al. (2023), melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 64 uji klinis acak, menemukan bahwa intervensi rasa syukur berkaitan dengan hasil kesehatan mental dan emosi positif yang lebih baik serta gejala kecemasan dan depresi yang lebih rendah dibandingkan kelompok pembanding.

BACA JUGA  Karakter Seseorang Ternyata Dapat Dikenali Melalui Jenis Minuman Favorit

Meski demikian, manfaatnya perlu dipahami secara realistis. Choi et al. (2025) menganalisis 145 penelitian dengan 24.804 partisipan dari 28 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa latihan bersyukur memiliki pengaruh positif yang relatif kecil terhadap kesejahteraan dibandingkan kelompok pembanding. Besarnya pengaruh juga berbeda antarnegara. Artinya, kita tidak dapat menganggap latihan bersyukur akan memberi hasil yang sama pada setiap orang.

Kesehatan mental dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi ekonomi, hubungan sosial, pengalaman pribadi, dan lingkungan. Karena itu, rasa syukur bukan pengganti upaya menyelesaikan masalah nyata ataupun bantuan profesional saat diperlukan.

Dalam keseharian, kita kerap mendengar nasihat, “Harus banyak bersyukur,” atau “Jangan mengeluh, masih banyak orang yang lebih susah.” Maksudnya mungkin baik, tetapi nasihat yang diberikan tanpa mendengarkan situasi seseorang justru dapat membuat kesedihan seolah tidak boleh dirasakan.

Seseorang bisa bersyukur memiliki pekerjaan sekaligus merasa kelelahan. Ia juga bisa mencintai keluarganya sambil mengakui adanya konflik. Persoalannya bukan seberapa sering seseorang mengucapkan syukur, melainkan apakah sikap itu membantunya memahami keadaan atau malah dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan yang perlu diatasi.

Membiasakan Kebahagiaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Kita dapat mulai dengan meluangkan beberapa menit untuk mencatat tiga hal baik yang dialami hari itu. Tidak perlu sesuatu yang luar biasa: bantuan teman, makanan yang dinikmati, atau satu tugas yang berhasil diselesaikan sudah cukup. Cobalah juga menuliskan mengapa pengalaman tersebut berarti, bukan sekadar membuat daftar.

Langkah berikutnya adalah menghargai proses sendiri. Ketika melihat keberhasilan orang lain, kita dapat menjadikannya inspirasi tanpa menganggap diri gagal. Membatasi waktu melihat media sosial jika membuat kita terus membandingkan diri juga patut dicoba.

BACA JUGA  Paradoks Media Sosial: Terhubung di Dunia Maya, Terisolasi di Dunia Nyata

Hubungan sosial tidak kalah penting. Ucapan terima kasih yang tulus, percakapan dengan orang terdekat, dan kesediaan mendengarkan dapat membantu menjaga kedekatan. Ketika seseorang sedang kesulitan, mendengarkan tanpa menghakimi sering lebih berarti daripada langsung menyuruhnya bersyukur.

Yang juga perlu diingat, tidak semua hari harus terasa menyenangkan. Saat sedih atau kecewa, kita boleh beristirahat, mengungkapkan perasaan, dan meminta dukungan. Bila tekanan emosional berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas, mencari bantuan tenaga profesional merupakan langkah yang bijak.

Bahagia Tidak Perlu Menunggu Sempurna

Kita tetap boleh memiliki harapan besar dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Bersyukur tidak berarti berhenti berusaha atau menerima keadaan yang merugikan. Kita hanya sedang belajar untuk tidak menjadikan pencapaian berikutnya sebagai satu-satunya syarat untuk merasa bahagia.

Kebahagiaan tidak berarti hidup tanpa masalah. Ada hari yang melelahkan, rencana yang gagal, dan keinginan yang belum terwujud. Di tengah semuanya, kita masih dapat menemukan pengalaman kecil yang layak dihargai.

“Kita tidak harus menunggu segalanya sempurna untuk menikmati hidup. Jangan sampai terlalu sibuk mengejar kebahagiaan di masa depan hingga melewatkan hal-hal sederhana yang membuat hari ini terasa berarti”.

Daftar Referensi

Choi, H., Cha, Y., McCullough, M. E., Coles, N. A., & Oishi, S. (2025). A meta-analysis of the effectiveness of gratitude interventions on well-being across cultures. Proceedings of the National Academy of Sciences, 122(28), Article e2425193122. https://doi.org/10.1073/pnas.2425193122

Diniz, G., Korkes, L., Tristão, L. S., Pelegrini, R., Bellodi, P. L., & Bernardo, W. M. (2023). The effects of gratitude interventions: A systematic review and meta-analysis. Einstein (São Paulo), 21, Article eRW0371. https://doi.org/10.31744/einstein_journal/2023RW0371 Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality      and                       Social Psychology,                  84(2),    377–389.                       https://doi.org/10.1037/0022-3514.84.2.377

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–

  1. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Example 300x600
Terorisme
Kolom

Opini: Belajar dari Pengungkapan Dugaan Jaringan Pendanaan ISIS di Türkiye untuk Memperkuat Kontra-Terorisme dan Deradikalisasi Indonesia   Oleh: Ibnu Komadiyyah Suwandoko* *Penulis adalah analis sosial…