KANALBERITA.COM – Para ekonom menyarankan agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak perlu mengalami kenaikan dalam waktu dekat meskipun ada potensi gejolak harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Analisis ini melihat ketahanan fiskal Indonesia dalam jangka pendek masih memadai untuk menyerap dampak tersebut.
Namun, Gunarto menekankan pentingnya evaluasi ulang pada bulan Juni. “Kalau memang defisit fiskalnya sudah mulai break, mendekati 3%, walaupun baru periode misalkan bulan Juni, ya mau gak mau, mereka harus ambil langkah untuk melakukan rasionalisasi subsidi BBM untuk energi,” ujarnya kepada CNBC Indonesia pada Rabu (25/3/2026). Ia menambahkan bahwa pemerintah dapat memanfaatkan keuntungan dari kenaikan harga komoditas lain seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara untuk dialihkan sebagai penopang subsidi BBM.
Secara terpisah, Kepala Ekonom David Sumual sepakat bahwa rasionalisasi kebijakan fiskal, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM, perlu dipertimbangkan jika harga minyak global terus bertahan tinggi. Ia memperkirakan perlunya revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam sebulan ke depan berdasarkan skenario harga minyak mentah yang tinggi.
Solusi Alternatif Tanpa Kenaikan Harga BBM
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menawarkan solusi yang berbeda. Ia berpendapat bahwa pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional tanpa harus menaikkan harga BBM. “Solusi yang lebih tepat tanpa menaikkan harga BBM adalah menggabungkan penghematan yang cermat dengan penambahan penerimaan dan perlindungan daya beli,” jelasnya kepada CNBC Indonesia pada Rabu (25/3/2026).
Josua menambahkan bahwa pemerintah masih memiliki ruang untuk mempertahankan harga BBM dengan memperkuat program bantuan pangan, memberikan diskon transportasi, menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR), dan meningkatkan belanja yang langsung menyentuh rumah tangga. Hal ini penting mengingat konsumsi masyarakat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
“Ini penting, sebab keyakinan konsumen Februari 2026 masih optimistis di level 125,2, penjualan eceran Februari diperkirakan tumbuh 6,9% year on year atau yoy, tetapi inflasi Februari juga sudah naik ke 4,76% tahunan dan Bank Indonesia tetap menahan suku bunga di 4,75% untuk menjaga kestabilan rupiah,” ucapnya. Menurutnya, menaikkan harga BBM dalam kondisi seperti ini justru berisiko memperparah tekanan inflasi dan menghambat konsumsi.
Josua menyarankan sektor energi dapat berfokus pada percepatan transisi dari pembangkit diesel ke tenaga surya, efisiensi energi di instansi pemerintah, pembatasan belanja perjalanan dinas, perbaikan sistem logistik, dan penertiban. Langkah-langkah ini dinilai lebih bijaksana dibandingkan membebani masyarakat secara langsung melalui kenaikan harga BBM.











