KANALBERITA.COM – Kasus hantavirus yang terdeteksi pada penumpang kapal pesiar MV Hondius telah memicu kekhawatiran global akan munculnya pandemi baru seperti COVID-19. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lima kasus infeksi hantavirus, dengan tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Munculnya kasus hantavirus ini kembali menimbulkan kegelisahan masyarakat internasional, terutama setelah pandemi COVID-19 yang merenggut jutaan nyawa di awal tahun 2020.
Namun, WHO melalui konferensi pers pada Kamis (7/5/2026) menyatakan bahwa meskipun ini adalah insiden virus, risikonya terhadap kesehatan masyarakat dinilai rendah. “Ini bukan awal dari epidemi. Ini bukan awal dari pandemi,” tegas Maria Van Kerkhove, direktur Departemen Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, seperti dikutip dari USA Today.
WHO juga menekankan perbedaan mendasar antara situasi hantavirus dan COVID-19, terutama dalam hal cara penyebarannya. “Saya ingin menegaskan di sini: ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi COVID,” ujar Van Kerkhove.
Potensi Penularan Hantavirus Dibandingkan Virus Lain
Ahli virologi Thomas G. Ksiazek mengingatkan bahwa virus bukanlah fenomena baru di dunia dan jika hantavirus berpotensi menjadi epidemi, hal itu seharusnya sudah terjadi sejak lama. Ia juga menekankan bahwa potensi pandemi lebih ditentukan oleh kemampuan penularan suatu virus, bukan semata-mata angka kematiannya.
Menurut para ahli, hantavirus tidak menunjukkan kemampuan penularan antarmanusia yang efisien. Strain Virus Andes, satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, kasus penularannya tetap jarang dan terbatas pada individu yang memiliki kontak terdekat.
“Influenza dan SARS-CoV-2 sangat baik dalam hal ini. Untuk hantavirus, hambatannya adalah penularan antarmanusia yang efisien,” jelas Vincent Racaniello, Profesor Higgins bidang Mikrobiologi dan Imunologi di Universitas Columbia, mengutip dari Newsweek.
Hantavirus tidak mudah menyebar dan tidak menular sebelum gejala muncul. Virus ini membutuhkan masa inkubasi selama beberapa hari hingga minggu, bahkan terkadang hingga delapan minggu, sebelum gejala klinisnya terlihat.












