HeadlineNasional

Gatot Nurmantyo Soroti Ancaman Hoaks dan Turunnya Kepercayaan Publik

×

Gatot Nurmantyo Soroti Ancaman Hoaks dan Turunnya Kepercayaan Publik

Sebarkan artikel ini
Mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo
Mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo

KANALBERITA — Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menyoroti persoalan kepercayaan publik dan maraknya informasi yang sulit diverifikasi di tengah dinamika politik nasional. Menurut Gatot, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius apabila masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.

Gatot menyampaikan pandangan tersebut dalam refleksinya mengenai kondisi bangsa dan perjalanan TNI selama 81 tahun. Ia menilai perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola konflik dan membuat masyarakat menghadapi tantangan baru berupa perang informasi atau perang kognitif.

“Terutama sekarang kita menghadapi perang yang telah meningkat menjadi perang kognitif, perang ide,” kata Gatot.

Menurut Gatot, media digital dapat digunakan untuk membentuk persepsi publik melalui berbagai bentuk konten, termasuk meme dan informasi yang belum tentu dapat dipastikan kebenarannya. Karena itu, ia mengingatkan agar respons terhadap informasi digital tidak dilakukan secara emosional.

Gatot Ingatkan Bahaya Berita Viral

Gatot menilai salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian adalah kecenderungan sebagian masyarakat menganggap sebuah informasi benar hanya karena telah tersebar luas.

BACA JUGA  Kritik Membangun Jangan Diabaikan: FUUI Respons Positif Tuntutan Purnawirawan TNI

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi memungkinkan sebuah informasi disebarluaskan secara masif dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati sebelum mempercayai ataupun menyebarkan sebuah informasi.

“Saya sangat khawatir … bahwa kita tidak dapat memverifikasi apakah berita melalui WhatsApp atau sumber lain benar adanya,” ujar Gatot.

Ia kemudian menekankan bahwa viralitas tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kebenaran sebuah informasi.

“Berita menjadi ‘benar’ jika menjadi viral, dan ada alat dan cara untuk itu. Inilah yang sangat berbahaya dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan Gatot ketika membahas situasi sosial dan politik yang berkembang. Ia meminta masyarakat tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama ketika informasi tersebut berpotensi menimbulkan kemarahan atau konflik.

Kepercayaan Publik Jadi Persoalan Penting

Selain persoalan informasi digital, Gatot juga menyinggung kondisi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Menurut dia, berbagai persoalan yang terjadi dapat terakumulasi dan memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan.

“Kepercayaan publik sedang merosot tajam,” ujar Gatot dalam pernyataannya.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan berbagai persoalan pemerintahan yang menurutnya dirasakan masyarakat. Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan Gatot dalam refleksinya dan tidak disertai pemaparan data survei dalam materi yang disampaikan.

BACA JUGA  Kritik Membangun Jangan Diabaikan: FUUI Respons Positif Tuntutan Purnawirawan TNI

Gatot juga menyoroti kondisi ekonomi dari perspektif aktivitas masyarakat sehari-hari. Ia menggunakan aktivitas perdagangan ritel dan usaha kuliner sebagai gambaran sederhana untuk melihat perubahan daya beli.

Menurut pengamatannya, jumlah transaksi yang ia lihat di sejumlah minimarket mengalami penurunan. Ia juga mencontohkan pedagang makanan yang mengurangi jumlah beras yang dimasak setiap hari.

“Yang dulunya 6 kilo sekarang menjadi 4 kilo, artinya daya beli turun 30%—ini adalah indikator sederhana yang mudah dipahami,” katanya.

Masyarakat Diminta Tak Mudah Terprovokasi

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Gatot mengajak masyarakat melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi yang diterima. Ia menilai langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya tindakan yang didasarkan pada informasi keliru.

“Saya hanya berharap masyarakat benar-benar bekerja sama dengan kelompok mereka untuk mencari kebenaran berita,” kata Gatot.

Menurut dia, masyarakat perlu memastikan informasi yang diterima benar sebelum mengambil tindakan. Terlebih, informasi yang berkembang di ruang digital dapat memengaruhi emosi dan keputusan seseorang dalam waktu cepat.

BACA JUGA  Kritik Membangun Jangan Diabaikan: FUUI Respons Positif Tuntutan Purnawirawan TNI

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sampai terhasut, marah, kemudian bertindak berdasarkan informasi yang ternyata tidak benar.

“Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak terhasut, marah, dan bertindak, hanya untuk menyesalinya kemudian,” ujarnya.

Peran TNI di Tengah Perang Informasi

Gatot juga menghubungkan perkembangan perang informasi dengan posisi TNI. Menurutnya, institusi militer tidak seharusnya memberikan respons berlebihan terhadap konten digital yang provokatif.

Ia menilai TNI perlu tetap menjaga posisinya sebagai institusi negara dan tidak mudah terseret dalam konflik informasi di ruang digital.

“Jika militer hanya bereaksi terhadap meme-meme ini, marah, dan kemudian bertindak, mereka yang ada di sana hanya akan tertawa,” kata Gatot.

Karena itu, ia menilai kemampuan menghadapi perang kognitif perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak semata-mata mengandalkan kekuatan fisik.

Pada akhirnya, Gatot kembali menekankan pentingnya hubungan antara TNI dan rakyat. Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan negara.

“Jadi jangan pernah memutuskan hatimu dari rakyat. Rakyatlah yang menjadikan Anda TNI,” tegas Gatot.

Ia berharap refleksi tersebut dapat menjadi pengingat agar masyarakat maupun institusi negara tetap mengedepankan verifikasi informasi, konstitusi, dan kepentingan rakyat di tengah dinamika politik nasional.

Example 300x600