KANALBERITA.COM – Google secara resmi menetapkan kebijakan baru yang mengharuskan pihak sekolah di Amerika Serikat memilih antara tetap menggunakan akses mesin pencari atau mengaktifkan fitur kecerdasan buatan (AI) bagi akun siswa. Keputusan ini memicu perdebatan di berbagai distrik pendidikan Amerika Serikat mengenai dominasi teknologi besar dalam kurikulum pengajaran.
Langkah ini merupakan pembalikan kebijakan dari bulan Agustus lalu, di mana fitur AI diaktifkan secara otomatis dalam Google Classroom untuk seluruh jenjang pendidikan. Kini, administrator sekolah harus memilih secara manual untuk mengaktifkan teknologi tersebut, namun dengan konsekuensi berupa hilangnya akses Google Search jika fitur AI tidak diaktifkan.
Pihak Google menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap masukan dari para pengajar dan pakar pendidikan. Namun, kebijakan tersebut tetap menuai kritik tajam karena dianggap memaksa institusi pendidikan untuk menerima integrasi AI demi mendapatkan fungsi pencarian standar.
Beberapa organisasi keselamatan anak dan teknologi telah mengirimkan surat terbuka yang mendesak distrik sekolah untuk menonaktifkan Google Gemini pada perangkat sekolah. Langkah tersebut diambil karena adanya kekhawatiran mengenai risiko bahaya yang mungkin dihadapi oleh anak-anak saat menggunakan alat berbasis AI.
Dampak Kebijakan Terhadap Pendidikan
Chris Phillips, wakil presiden dan manajer umum pendidikan Google, menyampaikan dalam sebuah tulisan blog pada Selasa lalu bahwa perusahaan kini memperbarui pendekatan terhadap kontrol Gemini, Gemini Notebook, Gemini in Classroom, dan Google Search setelah mendengar aspirasi dari berbagai sekolah, guru, peneliti, dan pembuat kebijakan.
Meski Google menawarkan fitur *Guided Learning* yang diklaim dapat membantu siswa memecahkan masalah langkah demi langkah, para pakar pendidikan tetap menunjukkan kekhawatiran. Ying Xu, asisten profesor di Harvard Graduate School of Education, menilai bahwa ketergantungan pada AI dapat mengikis keterampilan dasar dalam mencari informasi secara tradisional.
“Saya khawatir bahwa siswa mungkin kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan pencarian informasi yang penting, bahkan dengan adanya fitur pembelajaran terbimbing,” ujar Xu saat diwawancarai pada November 2026.
Kritik juga datang dari perwakilan sekolah di New York City. Mereka menyoroti bahwa tindakan Google merupakan upaya menggunakan kekuatan monopoli untuk memaksa integrasi AI ke dalam sistem sekolah publik. Sejalan dengan itu, para ahli menekankan bahwa tanggung jawab utama untuk melindungi hak siswa tetap berada di tangan pihak sekolah, terlepas dari konfigurasi teknologi yang ditawarkan oleh penyedia layanan.
Wartawan yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di media online Kompas com, Majalah Percikan Iman, dan Media Official Persib Bandung.












